Sejarah Pornografi

Sekitar tahun 1800, hal-hal yang berbau porno mulai menyebar. Novel erotis sendiri sudah mulai ditulis pada pertengahan tahun 1600 di Perancis. Namun, novel pornografi yang ditulis dalam bahasa Inggris pertama kali adalah Memoirs of Woman of Pleasure, atau dikenal dengan Fanny Hill, diterbitkan tahun 1748.

Teknologi kemudian mendorong inovasi genre porno. Tahun 1838, Louis Daguerre menciptakan daguerreotype, bentuk primitif dari fotografi. Tak lama berselang, buku-buku cabul langsung memanfaatkan teknologi itu. Penggambaran persenggamaan pun dilakukan secara hati-hati pada tahun 1846.

Penemuan video pun mengikuti jalan serupa. Tahun 1896, pembuat film dari Perancis menciptakan film bisu porno berdurasi pendek. Isinya adalah aktris film beradegan tari telanjang. Baru pada tahun 1900, film seks yang termasuk hard core muncul. Film-film itu kebanyakan memakai aktor yang sudah tua, tetapi beradegan seks sesungguhnya.

Selama bertahun-tahun film-film porno itu berjalan stagnan, baik dalam hal kualitas maupun isinya. Baru pada tahun 1970-an, terjadi pergeseran sebagai imbas masyarakat yang lebih terbuka menerima sensualitas. Perkembangan internet dan kamera digital ikut berpengaruh pada produksi film-film porno.

Menurut sebuah penelitian tahun 1994, diketahui bahwa 48 persen orang yang mengunduh film porno menyukai bentuk seksual yang tidak lazim, misalnya, hubungan seks dengan binatang, inses atau paedofilia. Hanya kurang dari 5 persen yang mengunduh film seks yang dilakukan lewat vagina. Diduga masyarakat mencari di internet hal-hal yang tidak mereka temukan pada majalah dan film porno biasa.

Kini, pornografi bisa dengan mudah ditemukan di internet meski angka pasti penjualan materi pornografi ini masih misteri. Menurut sebuah riset, diperkirakan angka penjualan majalah, alat bantu seks, dan film porno per tahunnya mencapai 6 miliar dollar AS.

Usaha untuk membungkam materi pornografi sendiri masih terus berlangsung sejak era Victoria dan tampaknya belum akan mencapai kata akhir dalam waktu dekat. Kecuali jika orang mulai berhenti melihat foto atau gambar orang lain dalam kondisi telanjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s